Baccarat betting method_Professional betting_Sports Betting Network_Basic Baccarat Play

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Indonesia membagi taruhan

MeFootball HandFootball Handicap appicap appnurut laporan World Health Organization, dari 265 juta orang yang menderita depreFootball Handicap appsi, sebagian orang mengalami smilling depression. Angka yang fantasis dan miris, ya. Tanda penderita depresi masih enggan terbuka dengan kerentanan dirinya.

“Aku pura-pura happy aja gitu,” ungkap Annisa (25 tahun) saat ditanya mengenai smiling depression.

“Nggak mudah, ya. Proses healing-nya juga berliku-liku. Aku sempet putus asa soalnya kok ngerasa nggak ada perubahan. Tapi aku punya teman-temanyang suportif banget,” ujar Annisa.

“Waktu aku udah kerja juga masih begitu. Aku pernah semalaman nggak tidur, nangis terus. Itu sampai pagi. Sementara paginya aku harus kerja dan aku memang kerja kayak biasa. Aku kerja dengan baik. Kalau ingat-ingat masa itu, aku nggak mau lagi, rasanya kayak zombie,” terang Annisa.

Bersamaan dengan keputusannya pergi ke psikolog, Annisa juga berani bercerita pada teman-temannya. Dikenal sebagai orang yang ceria, teman-temannya terkejut atas pengakuan Annisa. Meski beberapa teman menjauh, Annisa menemukan teman-teman yang selalu ada untuknya. Mereka yang menemani proses Annisa sembuh dari depresi.

Namun, di balik penampilan yang bahagia dan semua pencapaian itu, Annisa terjebak depresi yang parah. Beberapa kali ia bahkan berniat mengakhiri hidup. Kesakitan akibat luka-luka masa lalu disimpannya sendiri. Ia enggan berbagi dengan orang lain. Kenyataan kalau dirinya lemah sulit diakui oleh Annisa. Apalagi ia khawatir bila malah menyusahkan orang lain. Hasilnya, ia memilih menderita dalam kesepian dan kesendirian.

Orang-orang yang mengalami smiling depression, seperti Annisa, punya beragam alasan. Ketakutan menyusahkan orang lain menjadi salah satunya. Di lain sisi, banyak orang yang akhirnya memilih smiling depression karena beberapa hal ini.

Masih banyak penyebab lain yang mendorong seseorang menyembunyikan depresi dengan senyuman. Motifnya sangat kompleks dan nggak bisa disamaratakan. Bila tidak segera diatasi, smiling depression berbahaya sekali. Lantaran takut menyusahkan orang lain, orang yang depresi malah semakin terjebak dalam penderitaan. Keengganan meminta bantuan membuat depresinya semakin tak tertolong. Bahkan tak sedikit kasus, nyawa seseorang justru melayang.

Nah, inilah yang disebut dengan smiling depression. Bentuk depresi yang kerap ‘menipu’ kita.

Titik balik hidup Annisa adalah saat ia memutuskan pergi ke psikolog. Setelah hampir dua tahun hidup dengan depresi, ia merasa lelah. Meskipun awalnya sangat berat, tapi perjuangannya untuk keluar dari ‘labirin’ depresi terbayarkan. Langkah kecilnya untuk menemui psikolog telah membuka gerbang kebahagiaan yang baru. Perlahan, ia diajak untuk menguraikan semua pengalaman pahit dan emosi yang dirasakan. Untuk pertama kalinya, ia terbuka pada orang lain dan nggak mau pura-pura bahagia lagi.

Paling ramai di tongkrongan, tapi sering nangis saat sendirian | Photo by Free-Photos on Pixabay

Namun, ngomongin depresi tak selesai sampai di situ aja. Ada kalanya kita masih sering ‘tertipu’ kondisi kesehatan mental seseorang karena hal sepele, yakni ekspresi dan pembawaan diri. Seperti diketahui, depresi lekat dengan kesedihan, gairah hidup yang menurun drastis, putus asa, dan harga diri yang rendah. Orang yang terjerat depresi kesulitan untuk beraktivitas. Tapi, beda halnya dengan smiling depression.

Sama halnya dengan peristiwa Coki Pardede baru-baru ini. Sering mengeluarkan opini-opini yang satire dan cenderung kontroversial, banyak orang nggak menduga kalau Coki mengonsumsi narkotika demi meningkatkan rasa percaya diri. Kalau ingat bagaimana Coki muncul di YouTube dengan pembawaan yang santai, fakta jika dia mengalami krisis kepercayaan diri jadi sulit diterima.

Sekitar dua tahun lalu, Annisa mengalami depresi. Ia merasa sangat putus asa dan rendah diri. Beragam kejadian buruk dan pengalaman pahit menyebabkan pikiran negatif terus bersemayam di kepalanya. Setiap hari, hampir sepanjang malam sampai dini hari, ia terjaga dengan air mata yang berlinangan.

Akan tetapi, depresi punya beragam wajah. Nggak ada jaminan kalau orang yang selalu tersenyum dan tertawa, ia benar-benar bahagia. Tanpa kita tahu, ia mungkin menyembunyikan penderitaan dan kesedihan amat dalam. Hidupnya mungkin terlihat normal dan tanpa cela, bahkan ia mampu tampil gemilang di tempat kerja misalnya.

Penolakan ini justru datang dari diri sendiri. Orang yang depresi tak jarang enggan mengakui kalau dirinya memang sedang depresi. Ia tidak menyadari jika ada yang salah dengan dirinya. Ia berlindung di balik kalimat “Aku ora opo-opo.”

“Mbak Nunung setiap hari kerjanya cengengesan, kok bisa depresi, kok enggak percaya,” kata seorang hakim.

Anehnya, ia selalu ceria saat berhadapan dengan orang lain. Ia bisa tertawa, bercanda, dan ngobrol banyak hal dengan teman-temannya. Seakan-akan, ia adalah orang paling bahagia di dunia. Bahkan, teman-temannya sampai iri karena Annisa bisa menyelesaikan kuliah dengan hitungan waktu yang lumayan cepat. Tak berselang lama, ia juga sudah mendapatkan pekerjaan.

Memakai ‘topeng’ demi menutupi penderitaan | Credit: Piqsels

Kini, ia belajar untuk jujur pada diri sendiri dan orang lain. Ketika memang sedih, ia tidak lagi menutupinya dengan senyuman. Bukankah tidak apa-apa kalau ia tidak sedang baik-baik saja? Ia tidak punya kewajiban untuk selalu bahagia.

Masih ingat kasus komedian Nunung yang masuk bui dan diadili karena kepemilikan zat narkotika? Saat persidangan, pernyataan soal kondisi kesehatan mentalnya langsung diragukan gara-gara selama ini ia terlihat cengengesan di layar kaca. Sebagai pelawak, tingkahnya memang jauh dari kata “murung”. Ia selalu tampak ceria, penuh tawa, dan suka bercanda. Ketika  kondisi mentalnya terungkap, tanggapan miring bermunculan. Nunung dianggap mengada-ada.

Selama ini, terbentuk anggapan kalau hidup yang dijalani orang tersebut bahagia dan ia tidak seharusnya merasakan penderitaan. Anggapan yang salah ini jadi pangkal rasa bersalah ketika ia mulai mengalami gelaja depresi. Ketika merasa sedih atau putus asa, ia cenderung menyalahkan diri sendiri dan akhirnya menutupi sakitnya.

Gejala smiling depression sama seperti depresi pada umumnya. Annisa merasakan serangkaian kebiasaan buruk yang lama-lama beracun, di antaranya:

Depresi dinilai sebagai tanda kelemahan. Bagi sebagian orang, menunjukkan kelemahan diri merupakan hal yang memalukan, sehingga ia memilih untuk menyembunyikannya.

Harap beli akses artikel ini atau berlangganan   untuk melanjutkan

Seputar smiling depression | Illustration by Hipwee

Smiling depression adalah sebutan untuk orang yang mengidap depresi, tapi tampak bahagia. Jadi, ia sengaja atau secara nggak sadar menampilkan diri sebagai sosok yang ceria, aktif, dan optimis. Di balik pembawan diri yang bahagia itu, tersimpan perasaan tidak berharga dan putus asa yang berkelanjutan. Jadi, saat nongkrong dengan teman, ia bisa jadi orang yang paling ramai. Ibaratnya, ia adalah moodbooster dalam lingkaran pertemanan. Namun, ketika sendirian, ia menjadi orang yang berbeda 180 derajat. Dirinya diliput perasaan hampa dan kosong.

Kasus lainnya, ketika penyanyi Korea Selatan Jonghyun SHINee mengakhiri hidup secara mendadak tahun 2019 lalu, orang terdekat dan para penggemar juga syok.  Jonghyun sering tertawa, ramah, dan periang semasa hidup. Sebagai musisi berbakat, ia mendulang popularitas dan pundi-pundi cuan lewat karier menyanyinya. Dengan kehidupan yang serba cukup, ‘seolah’ tidak ada alasan baginya untuk bersedih. Apalagi sampai terjebak depresi.

Bahasan soal depresi sudah tak asing lagi di telinga. Meningkatnya kesadaran dan pemahaman soal kesehatan mental, banyak orang mulai aware dengan isu-isu yang dulu masih dipandang sebelah mata. Pelan-pelan stigma negatif pada penderita depresi dan gangguan mental lainnya mulai berkurang.